MATA KEHIDUPAN

wpid-segelas+air.jpg.jpeg


Tinggalkan komentar

Walaupun Hanya Segelas Air

image

By: Alwi Alatas

Matakehidupan–Diceritakan oleh Thabit al-Banani
bahwa Abdullah ibn Mutraf meninggal dunia. Kemudian ayahnya muncul di tengah orang-orang dengan mengenakan pakaian yang bagus serta memakai wangi-wangian. 

Orang-orang merasa kesal dan berkata kepadanya, “Abdullah meninggal dunia dan kamu berbuat (berpakaian) seperti ini?”

“Apakah saya harus merasa susah?” jawabnya. “(Sementara) Allah telah menjanjikan kepada saya tiga hal yang semuanya sangat tinggi nilainya bagi saya. Allah berfirman: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ’Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna (shalawat) dan rahmat (rahmah) dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (muhtadun) (QS al-Baqarah [2]: 156-157).”

Kemudian ia melanjutkan, ”Sungguh saya akan mengganti (menebus) apa pun yang diambil dari saya di dunia ini untuk saya dapatkan balasannya di akhirat kelak, walaupun (yang hilang) itu hanya segelas air.” (Diambil dari Mukhtasar Minhajul Qashidin karya Ibn Qudamah al-Maqdisi)

Kalau ada milik kita yang hilang, janganlah mengeluh atau marah. Allah sudah menyiapkan gantinya untuk kita. Ucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un dan mintalah kepada Allah ganti yang lebih baik. Allah tidak akan melalaikan apa yang dijanjikan-Nya.
(penaaksi.com)

Posted by: SahabatBaik

wpid-abu-vulkanik-membumbung-tinggi-keluar-dari-gunung-kelud-terlihat-_140214111603-718.jpg


Tinggalkan komentar

Antara Dosa dan Bencana

image

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Ustaz Ahmad Dzaki, MA
 
Sekiranya penduduk negeri ini beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96).
 
Ayat tersebut memberikan peringatan kepada kita, sekiranya seluruh rakyat negeri ini beriman dan bertaqwa, maka janji Allah di atas pasti akan menjadi kenyataan.

Sayangnya kenyataan di atas belum bisa direalisasikan mengingat masih banyak penduduk negeri ini yang melakukan perbuatan dosa dan maksiat.

Kisah-kisah umat yang terdahulu yang dipaparkan Allah SWT dalam Al-Qur’an, seperti kaum Nabi Nuh As, yang ditenggelamkan melalui hujan yang tiada henti sampai menimbulkan banjir dan menewaskan semua makhluk yang ada, karena mereka mendustakan ajaran Rasulnya.

Lihat pula kaum Tsamud, karena kesombongannya, dengan membusungkan dada mereka menentang datangnya azab, lalu Allah berikan gempa yang dahsyat yang menewaskan mereka.

Lain halnya dengan kaum Madyan, yang suka mengurangi timbangan dan takaran, lalu Allah SWT berikan musibah kepada mereka hingga akhirnya mereka tewas.

Begitu pula dengan kaum ‘Ad, yang dibinasakan oleh Allah SWT dengan meniupkan angin yang sangat panas sekali dikarenakan mereka tidak beriman.

Kaum-kaum terdahulu dihancurkan dan dibinasakan oleh Allah dikarenakan mereka kufur dan banyak melakukan maksiat.

Bagaimana dengan kita saat ini? Apa yang kita alami saat ini? Bukalah mata lebar-lebar, pasang telinga baik-baik. Maksiat terjadi di mana-mana. Pergaulan lawan jenis yang keluar dari norma agama semakin menggila.

Ditambah lagi media masa visual dan non-visual ikut melengkapi ajakan syaitan dengan dalih seni dan hak-hak azazi manusia.

Kecurangan dalam perniagaan, yang terjadi pada kaum Madyan pun,  terjadi sekarang. Kecurangan bukan hanya dalam timbangan secara zhahir, tetapi penindasan dan tipu muslihat.

Wajarlah, jika Allah SWT memberikan berbagai macam bencana kepada kita seperti gempa bumi yang menelan korban dan memaksa manusia mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman.

Belum lagi, bencana banjir yang berulang kali terjadi di beberapa tempat, termasuk di ibu kota Jakarta. Padahal, baru kemarin kita merasakan beratnya kemarau panjang.

Gunung Sinabung belum selesai meletus, yang menyisakan penderitaan yang panjang bagi masyarakat di beberapa tempat, Gunung Kelud meletus dan memuntahkan debu vulkanik hingga mencapai Tasikmalaya dan Ciamis Jawa Barat yang jaraknya lumayan jauh.

Kepanikan pun terjadi di mana-mana. Dan, ketika hujan deras turun di sekitar Gunung Kelud, menambah penderitaan masyarakat. Karena lahar dingin itu mengangkut bebatuan dan segala yang ada turun dari puncak Gunung Kelud.

Tak hanya gempa bumi, gunung meletus, banjir dan longsor. Bencana busung lapar anak manusia negeri ini sering kita dengar, baik melalui televisi dan media lainnya. Aneh, di negeri yang subur ini, bencana busung lapar bisa terjadi.

Korupsi merajalela, mulai tingkat yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Jatuhnya nilai rupiah  yang mengakibatkan krisis moneter yang berdampak kemiskinan, pengangguran dan kelaparan, masih kita rasakan sampai saat ini.

Berbagai penyakit aneh dan kotor mulai merebak dan menggerogoti penduduk negeri ini. Bahkan, tak sedikit penyakit yang belum ada obat penawarnya sampai saat ini.

Yang paling mengkhawatirkan, hancurnya moral generasi muda penerus bangsa, disebabkan terhanyut dan tenggelam bersama obat-obat setan yang terlarang.

Apakah azab telah mengintai negeri ini? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Akankah semua kita  mengalami nasib seperti kaum Nabi Nuh? Atau seperti kaum Tsamud? kaum Madyan dan kaum ‘Ad?

Mari kita renungkan bersama. Mari kita kembali ke jalan yang benar, mengamalkan ajaran agama Allah, mencintai sunnah Rasulullah SAW dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar serta tidak membiarkan kemaksiatan di sekeliling kita. Semoga Allah SWT memberikan ampunan kepada kita semua. Amin.
 

Posted by: SahabatBaik


Tinggalkan komentar

Mutiara Pesan Al-Insyirah

image

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ina Salma Febriany

Melalui Alquran, Allah Swt telah menancapkan dasar-dasar komunikasi yang komprehensif dalam 6000-an lebih ayat-Nya.

Alquran ialah cara Allah Swt agar dapat memberikan nasihat, kabar baik (basyîran) bagi yang melaksanakan segenap ajaran-Nya dan serta kabar buruk (nadzîran) bagi siapapun yang melanggar perintah-Nya, agar mau kembali kepada Allah Swt sebelum nyawa kembali kehadirat-Nya.

Masa yang hampir 23 tahun dan terbilang tidak singkat bagi Nabi Muhammad Saw dalam menyampaikan risalah Al-Qur’an Al-Karîm, adalah lambang bahwa Al-Qur’an perlu dipelajari secara seksama agar setiap orang mendapatkan apa yang ia inginkan dari Al-Quran yakni ketenangan batin.

Meski tidak semua orang mengerti betul tentang tata bahasa Arab yang digunakan Alquran, namun setiap orang pasti akan menemukan kedamaian bersama Al-Quran, karena Alquran bukanlah ciptaan manusia, ia bersumber dari segala sumber kebaikan, Allah Swt. Bernilai pahala bagi yang membaca, mempelajari, menghafal, terlebih bagi yang mengamalkannya.

Dalam masa-masa sulitnya Nabi Muhammad Saw menyampaikan Alquran, sebagai manusia biasa, beliau tak jarang merasa pesimis akan keberhasilannya melakukan dakwah di bumi Makkah dengan ajaran nenek moyang suku Quraisy dalam menyembah berhala yang tak mudah untuk diubah. Namun, Nabi Muhammad Saw senantiasa tabah dan bertahan.

Beliau berprinsip bahwa agama bukanlah menjadi halangan untuk menebar kebaikan, strategi dakwahpun dimulai. Beliau awali dengan menasihati keluarga terdekat, ini dinamakan dakwah sirr (rahasia atau sembunyi). Dakwah sirr ini berjalan hampir lebih dua tahun dan memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebelum kita mengubah yang besar, Allah mengajarkan untuk memulai menanamkan kebaikan untuk orang terdekat.

Surah Al-Insyirah kiranya sebagai bukti kebadian Allah Swt dalam menasihati Nabi Muhammad Saw kala ia ketakutan. “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Qs Al-Insyirah: 1-8)

Ada beberapa hal yang patut kita ketahui bahwa yang dimaksud dengan beban di sini ialah kesusahan-kesusahan yang diderita Nabi Muhammad s.a.w. dalam menyampaikan risalah. Adapun meninggikan nama Nabi Muhammad s.a.w di sini Maksudnya ialah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan taat kepada Nabi Termasuk taat kepada Allah dan lain-lain.

Lalu dalam ayat selanjutnya, sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah.

Kiranya, pesan-pesan yang terkandung dalam surah Al-Insyirah ini juga berlaku untuk kita semua dalam bekerja dan berkarya. Mutiara pesan yang tersirat itu ialah ada jaminan—karena Allah menggunakan lafadz Inna yang bermakna taukid (penegasan)— Allah Swt bagi siapapun yang usahanya diiringi doa dan bertawakkal, pasti kemudahan menghampirinya.

Selain itu, anjuran untuk sigap dalam berbagai kegiatan. Ketika ada amanah yang telah selesai kita laksanakan, maka jangan berhenti dan cepat puas. Allah menciptakan manusia dengan segala potensinya untuk menebar kebaikan. Tebarlah sebanyak mungkin, dan rasakan keberkahan hidup juga buah ketenangan.


Tinggalkan komentar

Kita Bukan Penduduk Planet Ini

Mata Kehidupan-Kita bukan penduduk asli planet ini. Karena sebenarnya kita berharap tempat menetap adalah di mana tempat menetapnya Nabi Adam sebelumnya..

Di planet kecil ini hanyalah sementara, tiada yang abadi, bersabarlah dalam kesementaraan ini, ujian nya pun tak lama..

Hati kita yang sempit ini yang membuat terasa lama.. Berbekallah sebanyak-banyak bekal..

“Yakinlah..! Mereka yang tersibukkan amal sholeh tak kan sia-sia balasan Sang Kekasih..

Maksimalkan taat.. Lezatkan jiwa dalam dekat.. Tautkan hati bersama orang-orang yang hatinya tak mengejar dunia yg sesaat.. Kelak impian Syurga tempat kembali yang indah penuh nikmat..

Ustadz M.Zaenal Muttaqin Lc

optimis


Tinggalkan komentar

Jangan Katakan Tujuh Hal Ini Pada Diri Sendiri

Orang bijak bilang kalo kita berpikir bisa atau tidak bisa maka keduanya benar. Jadi tergantung bagaimana cara berpikir kita, Sob, apakah akan optimis atau pesimis.

Sama seperti anak kecil yang sedang dalam masa pertumbuhan, apa yang dikatakan orang tuanya akan sangat berpengaruh pada perkembangan mereka nantinya. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya mengatakan hal-hal yang baik saja.

Sebaiknya kita memilih apa yang perlu kita katakan pada diri sendiri. Jangan sering membuat diri kita merasa bersalah karena hanya akan membawa pada keraguan dan rasa pesimis. Yuk bantu diri kita sendiri lebih kuat dengan tak terlalu banyak mengatakan beberapa hal ini.

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

Lima Faedah Puasa Syawal

Alhamdulillah, kita saat ini telah berada di bulan Syawal. Kita juga sudah mengetahui ada amalan utama di bulan ini yaitu puasa enam hari di bulan Syawal. Apa saja faedah melaksanakan puasa tersebut? Itulah yang akan kami hadirkan ke tengah-tengah pembaca pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat.
Faedah pertama: Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[1]
Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan).[2] Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) »
“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal][3].”[4] Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal dan inilah balasan kebaikan yang paling minimal.[5] Inilah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan pada umat Islam.
Cara melaksanakan puasa Syawal adalah:
Puasanya dilakukan selama enam hari.
Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.
Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.Faedah kedua: Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib
Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.[6]
Faedah ketiga: Melakukan puasa syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan
Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.[7] Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”[8]
Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”[9]
Renungkanlah! Bagaimana lagi jika seseorang hanya rajin shalat di bulan Ramadhan (rajin shalat musiman), namun setelah Ramadhan shalat lima waktu begitu dilalaikan? Pantaskah amalan orang tersebut di bulan Ramadhan diterima?!
Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts ’Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa Saudi Arabia) mengatakan, ”Adapun orang yang melakukan puasa Ramadhan dan mengerjakan shalat hanya di bulan Ramadhan saja, maka orang seperti ini berarti telah melecehkan agama Allah. (Sebagian salaf mengatakan), “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.” Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang tidak melaksanakan shalat di luar bulan Ramadhan. Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat. Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat.”[10] Hanya Allah yang memberi taufik.
Faedah keempat: Melaksanakan puasa syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah
Nikmat apakah yang disyukuri? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan?!

Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

“Di Zaman Rasul, Orang Syiah Suka Mencuri Sandal”

By Saefullah

TELAH diadakan diskusi antara tujuh ulam’ Syiah di depan ulama Ahlu Sunnah atas undangan Presiden Iran. Diskusi ini diadakan untuk mengetahui titik perbedaan antara dua kelompok tersebut.

Ketika seluruh ulama Syiah telah hadir, akan tetapi tak satupun Ulama Sunni yang datang.

Tiba-tiba masuklah seorang yang membawa sepatu di bawah ketiaknya. Ulama Syiah terheran-heran, kemudian mereka bertanya, “Kenapa kamu membawa sepatumu?”

Orang itu menjawab: “Saya tahu bahwa orang Syiah itu suka mencuri sandal di zaman Rasulullah.”

Ulama Syiah saling pandan,g terheran-heran akan jawaban itu. Mereka kemudian berkata: “Tapi di zaman Rasul belum ada Syiah…”

Orang itu menjawab lagi: “Kalau begitu diskusi telah selesai. Dari manakah datangnya ajaran agama kalian? Kalau di zaman Rasulullah tidak Ada Syiah.”

Ternyata orang yang datang membawa sepatu tersebut adalah Ahmad Deedat, da’i besar dan Kristolg dunia. Rahimahullah. [dedih mulyadi/islampos].
Posted from: http://islampos.com/di-zaman-rasul-orang-syiah-suka-mencuri-sandal-73605/ Salam SahabatBaik

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.224 pengikut lainnya.